40 HADITS MENGENAI KEUTAMA’AN AL-QUR’AN

Hadits ke-1

Yang artinya :Dari Utsman r.a, Rasulullah S.A.W. bersabda, “sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(H.R: Bukhori, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

FAEDAH :

Dalam sebagian besar kitab, hadits ini di riwayatkan dengan menggunakan huruf wa (dan), sebagaiman terjemahan di atas. Dan keutamaan yang di sebutkan menurut terjemahan di atas diperuntukan bagi orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Namun di dalam beberapa kitab lainnya, ada yang diriwayatkan dengan menggunakan huruf aw(atau), sehingga apabila diterjemahkan akan memiliki arti, “Yang terbaik adalah yang belajar Al-Qur’an saja atau yang mengajarkan Al-Qur’an saja.” Keduanya akan mendapatkan derajat yang utama.

Al-Qur’an adalah inti agama. Menjaga dan menyebarkannya berarti menegakkan agama, sehingga sangat jelas keutamaan mempelajari dan mengajarkannya,walaupun bentuknya berbeda-beda. Yang paling sempurna adalah mempelajarinya, dan akan lebih sempurna lagi jika mengetahui maksud dan kandungannya. Dan yang terendah adalah sekedar mempelajari bacaanya saja. Rasulullah S.A.w menguatkan hadits di atas dengan sebuah hadits dari Sa’id bin Sulaim rah.a. secara mursal bahwa barang siapa mempelajari Al-Qur’an, tetapi ia menganggap bahwa orang lain yang telah di beri kelebihan yang lain lebih utama darinya, berarti ia telah menghina nikmat ALLAH S.W.T. yang di karuniakan kepadanya, yaitu taufik untuk mempelajari Aqur’an.

Sebagaimana akan diterangkan dalam hadits-hadits selanjutnya, Al-Qur’an itu lebih tinggi daripada kalam lainya sehingga diyakini bahwa membaca dan mengajarkannya itu lebih utama daripada segalanya. Disebutkan di dalam hadits lainnya oleh Mulla Ali Qari rah.a., bahwa barang siapa yang menghafal Al-Qur’an , maka ia telah menyimpan ilmu kenabian di dalam kepalanya. Sahal Tustari rah.a. berkata “Tanda-tanda cinta kepada Allah S.W.T. adalah menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di dalam hatinya.” Diterangkan dalam Syarah Al-Ihya bahwa di antara golongan orang yang mendapatkan naungan arsy Ilahi pada hari kiamat yang penuh ketakutan adalah orang yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak dan orang yang mempelajari Al-Qur’an ketika kanak-kanak, dan selalu menjaganya pada masa tuanya.

Hadits ke-2

Yang artinya : Dari Abu Sa’id r.a., bersabda Rasulullah S.A.W.,”Rabb Tabaraka wa ta’ala berfirman,’Barang siapa disibukkan dengan Al-Qur’an daripada berdzikir an berdo’a kepada-Ku, niscaya Aku beri ia sesuatu yang terbaik yang aku berikan kepada orang yang meminta kepada-Ku. Dan keutamaan Kalamullah terhadap kalam lainnya seperti keutama’an Allah terhadap makhluk-Nya.”(H.R :Tirmidzi, Darami, Baihaqi).

FAEDAH :

Seseorang yang sibuk menghafal, mempelajari, atau memahami Al-Qur’an sehingga tidak sempat berdo’a, maka ALLAH S.W.T. aka memberinya sesuatu yang lebih utama dari pada yang telah diberikan kepada orang yang berdo’a. Sebagaimana dalam urusan keduniaan , jika seorang akan membagikan kue atau makanan kepada orang banyak , lalu ia memilih seseorang untuk nimembagikannya, maka bagian untuk orang yang bertugas membagikannya akan disisihkan terlebih dahulu. Mengenai kesibukkan orang yang selalu membaca Al-Qur’an telah di sebutkan di dalam hadits lain, bahwa ALLAH S.W.T. akan mengaruniakan pahala kepadanya yang lebih baik daripada pahala orang yang selalu bersyukur.

Hadits ke-3

Yang artinya : Dari Uqbah bin ‘Amir r.a., ia berkata, “Rasulullah S.A.W. keluar dan menemui kami di shuffah. Beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang suka setiap pagi pergi ke pasar Buthan atau Aqiq, kemudian pulang membawa dua ekor unta betina yang berpunuk besar tanpa berbuat dosa atau memutuskan silaturrahmi?’ Maka kami menjawab, ‘Ya Rasulullah, setiap kami menyukainya,’ Sabda Beliau,’Mengapa salah seorang dari kalian tidak pergi pada pagi hari ke masjid lalu belajar atau membaca dua ayat Al-Qur’an, (padahal) itu lebih baik baginya daripada dua ekor unta betina, tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta betina, empat ayat lebih baik daripada empat ekor unta betina dan seterusnya, sejumlah ayat yang di baca mendapat sejumlah unta yang sama.”(H.R :Muslim, Abu Dawud).

FAEDAH :

Shuffah adalah sebuah lantai khusus di masjid Nabawi, tempat orang-orang miskin Muhajirin tinggal disana. Jumlah sahabat ahlush-shuffah selalu berubah dari waktu ke waktu. Allamah As-Suyuthi rah.a. telah menulis seratus satu nama sahabat yang tinggal di shuffah, dan ia menulis tentang mereka di dalam risalah tersendiri. Sedangkan Buthhan dan Aqiq adalah nama dua tempat di Madinah sebagai pasar perdagangan unta. Orang arab sangat menyukai unta, terutama unta betina yang berpunuk besar.

Maksud ‘tanpa berbuat dosa’ adalah tanpa suatu usaha. Bukan sebagaimana harta seseorang yang dapat bertambah banyak melalaui pemerasan atau mencuri dari orang lain, atau dari merampas warisan sesama saudara. Oleh sebab itu, Rasulullah S.A.W., menafikan semua cara itu, yaitu tanpa bersusah payah sama sekali atau berbuat dosa. Semua orang tentu senang Ketika memperolehnya, tetapi disebutkan bahwa mempelajari beberapa ayat Al-Qur’an itu lebih baik dan lebih utama daripada mendapatkan semua itu. Hendaknya kita meyakini bahwa seekor atau dua ekor unta sama sekali tidak sebanding, bahkan walaupun dibandingkan dengan satu kerajaan seluas tujuh benua, semua pasti akan di tinggalkan. Jika bukan hari ini tentu pada hari esok, ketika maut menjemput, pasti semuanya terpaksa harus berpisah. Sebaliknya, pahala membaca satu ayat Al-Qur’an akan bermanfa’at selama-lamanya. Dalam urusan keduniaan kita dapat menyaksikan bahwa seseorang yang diberi satu rupiah tanpa beban tanggung jawab apapun akan lebih senang daripada di pinjami seribu rupiah agar disimpan olehnya, tetapi kelak akan di ambil lagi karena ia terbebani amanah tanpa mendapatkan manfaat sedikitpun.

Inti maksud hadits di atas adalah mengingatkan kita akan perbandingan sesuatu yang fana dengan sesuatu yang abadi. Ketika seseoramg diam atau bergerak, hendaknya selalu berpikir apakah dirinya sedang berbuat sesuatu yang sementara dan sia-sia atau sesuatu yang kekal dan bermanfaat? Betapa rugi waktu yang hanya di gunakan untuk mencari bencana yang abadi. Kalimat terakhir di dalam Hadits di atas menyebutkan bahwa jumlah yang sama tetap lebih utama daripada jumlah untanya. Kalimat itu mengandung tiga maksud, yaitu:

  1. Hanya sampai jumlah empat. Masalah ini telah di jelaskan dengan terperinci. Dan selebihnya disebutkan secara umum bahwa semakin banyak ayat itu di baca, akan lebih utama daripada sejumlah unta yang sama. Adapun unta yang dimaksud adalah semua jenis unta, baik jantan maupun betina. Disebutkan hingga jumlah ke empat agar dapat dibayangkan bagaimana jika lebih dari empat.
  2. Jumlahnya sama dengan yang disebutkan dalam hadits diatas, tetapi untanya bergantung pada selera masing-masing. Ada yang menyukai unta betina ada yang menyukai unta jantan. Oleh sebab itu, Nabi S.A.W., menegaskan bahwa satu ayat lebih berharga daripada seekor unta betina. Jika seseorang menyukai unta jantan, artinya lebih baik daripada unta jantan.
  3. Keterangan diatas hanya untuk jumlah tersebut, tidak lebih dari empat. Jika dibandingkan dengan maksud kedua, maka bukan saja lebih baik dari[pada unta betina atau jantan, tetapi lebih baik daripada keduanya. Jelasnya, membaca satu ayat lebih baik daripada sepasang unta jantan dan unta betina. Ayah saya/Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi (nawarullahu Marqadahu) lebih menyetujui pendapat ini, sebab lebih banyak keutamaanya. Walaupun demikian tetap tidak dapat disamakan antara membaca satu ayat Al-Qur’an dengan satu ekor atau dua ekor unta, ini sekedar peringatan dan contoh. Saya/Muhammad Zakariyya/pengarang, telah menjelaskan sebelumnya bahwa satu ayat Al-Qur’an akan memperoleh pahala abadi yang lebih utama dan lebih baik daripada kerajaan seluas tujuh benua yang fana’ ini

Mulla Ali Qari rah.a., menulis tentang seorang syaikh yang sedang bersafar. Ketika tiba di Jeddah, ia diminta oleh para pengusaha kaya agar tinggal lebih lama di tempat mereka, agar dengan keberkahan syaikh, harta dan perniagaan mereka mendapat keuntungan. Maksudnya, para pelayan syaikh juga akan mendapatkan bagian dari keuntungan perniagaanya tersebut. Pada mulanya syaikh menolak tawaran mereka, tetapi setelah didesak terus, akhirnya syaikh berkata, “Berapakah keuntungan tertinggi dari perniagaan kalian?” Jawab mereka, “Penghasilan kami berbeda, setidaknya kami bisa mendapatkan keuntungan dua kali lipat. “kata syaikh, “Kalian telah bersusah payah untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit. Aku tidak menghendaki sesuatu yang sedikit ini, sehingga harus kehilangan shalatku di Majidil-Haram yang pahalanya dilipatkan sampai seratus ribu kali.”

Pada hakikatnya, kaum muslimin hendaknya memikirkan betapa mereka telah mengorbankan keuntungan agama demi mendapatkan keuntungan dunia yang sedikit ini.

Hadits ke-4

Yang artinya : dari Aisyah r.ha., rasulullah S.a.W., bersabda, “Orang yang ahli dalam Al-Qur’an akan bersama para malaikat pencatat yang mulia lagi benar. Dan orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an serta bersusah payah (mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali.” (H.R : Bukhori, Muslim, Abu Dawud)

FAEDAH :

Yang disebut ‘orang yang ahli dalam Al-Qur’an ‘ adalah orang yang hafal Al-Qur’an dan senantiasa membacanya, apalagi dengan memahami arti dan maksudnya. Dan yang dimaksud ‘bersama-sama malaikat’ adalah ia termasuk golongan yang memindahkan Al-qur’anul-Karim dari Lauhul Mahfudz dan menyampaikannya kepada orang lain melalui bacaanya. Dengan demikian, keduanya memiliki pekerjaan yang sama. Juga dapat berarti : Ia akan bersama para malaikat pada hari Mahsyar nanti. Dan orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an akan memperoleh dua pahala; satu pahala karena bacaanya, dan satunya lagi karena kesungguhannya mempelajari Al-Qur’an berkali-kali. Tetapi bukan berarti pahalanya akan melebihi pahala ahli Al-Qur’an. Orang yang ahli membaca Al-Qur’an tentu akan memperoleh derajat yang istimewa, yaitu bersama para malaikat khusus. Maksud yang sebenarnya, bahwa dengan bersusah payah mempelajari Al-Qur’an akan menghasilkan pahala ganda, sehingga tidak semestinya kita meninggalkan bacaan Al-Qur’an, walaupun menghadapi kesulitan dalam membacannya.

Mulla Ali Qari rah.a. meriwayatkan dari Thabrani dan Baihaqi, “Barang siapa membaca Al-Qur’an sedangkan ia tidak hafal, maka ia akan memperoleh pahala dua kali lipat. Dan barang siapa benar-benar ingin menghafal Al-Qur’an tetapi tidak mampu, tetapi ia terus membacanya, maka Allah akan membangkitkannya pada hari Mahsyar dengan para Hafizh Al-Qur’an.

 

Hadits ke-5

Yang artinya : Dari ibnu Umar r.huma, Rasulullah S.A.W. bersabda, “Tidak di benarkan hasad (iri hati), kecuali terhadap dua orang: Seseorang yang dikaruniai oleh Allah (kemampuan menghafal/membaca) Al-Qur’an, lalu ia membacanya pada malam dan siang hari. Dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakkanya malam dan siang hari.”(H.R.: Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i).

FAEDAH:

Pada umumnya banyak dinukilkan di dalam Al-Qur’an dan hadits mengenai keburukan hasad, yang hukumnya mutlak dilarang. Sedangkan menurut hadits di atas, ada dua jenis orang yang kita dibolehkan hasad kepadanya. Disebabkan demikian banyak riwayat terkenal mengenai keharamannya, maka alim ulama menjelaskan hasad dalam hadits ini dengan dua maksud :

  1. Hasad dengan makna risyk yang dalam bahasa arab disebut ghibtah. Adapun perbedaan antara hasad dan ghibtah adalah : hasad ialah jika seseorang mengetahui ada orang lain yang memiliki sesuatu, maka ia ingin agar sesuatu itu hilang dari orang tersebut, baik ia mendapatkannya atau tidak. Sedangkan ghibtah ialah seseorang yang ingin memiliki sesuatu secara umum, baik orang lain kehilangan ataupun tidak. Oleh sebab itu, secara ijma’, hasad adalah haram. Dan alim ulama mengartikan makna hadits di atas sebagai ghibtah yang dalam urusan keduniaan dibolehkan, sedangkan dalam masalah agama adalah mustahab (lebih disukai).
  2. Mungkin juga maksudnya digunakan sebagai pengandaian, yaitu seandainya hasad itu boleh, maka hasad terhadap dua hal di atas tentu di bolehkan.

Hadits ke-6

Yang artinya :Dari Abu Musa r.a., Rasulullah s.A.W. bersabda, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti jeruk manis, baunya harum, rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma, tidak harum tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti bunga yang harum, baunya harum tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah pare, tidak berbau dan rasanya pahit.” (H.R.: BUKHORI, MUSLIM, NASA’I, TIRMIDZI).

FAEDAH :

Maksud hadits di atas adalah menunjukkan perbandingan antara sesuatu yang abstrak dengan yang nyata, sehingga dapat lebih mudah dibedakan antara orang yang membaca Al-Qur’an dengan yang tidak membacanya. Padahal jelas bahwa kelezatan tilawat Al-Qur’an jauh berbeda dengan kelezatan apapun di dunia ini, seperti jeruk dan kurma. Tetapi banyak rahasia di balik tamsil hadits di atas yang menjadi saksi terhadap ilmu Nubuwwah dan keluasan pemahaman Nabi S.A.W. Misalnya : jeruk mengharumkan mulut, menguatkan pencernaan, membersihkan lambung, dan sebagainya. Semua manfaat itu secara khusus juga dihasilkan oleh pembaca Al-Qur’an, yaitu mewangikan mulut, membersihkan batin, dan menguatkan keruhanian. Salah satu keistimewaan uiah jeruk lainnya adalah bahwa jin tidak dapat memasuki rumah yang didalamnya terdapat jeruk. Jika hal ini benar, ini merupakan suatu keserupaan khusus pada Al-Qur’an. Saya (Maulana Muhammad Zakariyya) mendengar dari beberapa dokter ahli yang mengatakan bahwa jeruk manis dapat menguatkan ingatan. Dan menurut riwayat Ali r.a. dalam Al-Ihya’ disebutkan bahwa 3 hal dapat menguatkan ingatan : 1). Bersiwak, 2).Puasa, 3) membaca Al-Qur’an.

Dalam penutup hadits di atas, dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa sahabat yang baik adalah seperti penjual minyak kasturi. Meskipun tidak memiliki kasturi, jika berdekatan dengannya akan mendapatkan wanginya. Sahabat yang buruk adalah seperti pandai besi. Meskipun tidak terkena apinya, jika berdekatan dengannya akan terkena asapnya. Oleh sebab itu sangat penting untuk diperhatikan siapakah sahabat dan teman bergaul kita.

Hadits ke-7

Yang artinya : Dari Umar bin khaththab r.a., Rasulullah S.A.W., bersabda, “Sesunguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini dan merendahkannya yang lainnya dengannya pula.” (H.R.: Muslim)

FAEDAH :

Barangsiapa yang beriman dan beramal dengan Al-Qur’an, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya dan memuliakannya di dunia dan akhirat. Dan Allah menghinakan siapa saja yang tidak mengamalkannya.

Dalam Al-Qur’an dinyatakan yang artinya : “Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan (dengan perumpamaan itu pula) banyak orang yang di beri petunjuk. (Q.S., al-Baqarah :26

Firman Allah yang lain yang artinya : “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang –orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidak menambah bagi orang-orana yang zhalim selain kerugian.”(Q.S.:Al-Isra’ :82erus dalam keadaan

Rasulullah.s.a.w bersabda, “Banyak kaum munafik dari umat ini yang membaca Al-Qur’an.” Dalam Al-Ihya’ disebutkan tentang pernyataan alim ulama bahwa jika seseorang mulai membaca sural Al-Qur’an, maka Malaikat mulai memohonkan rahmat untuknya dan mereka akan dalam keadaan berdo’a untuknya sampai ia selesai membaca Al-Qur’an, tetapi ada pula yang seseorang yang mulai membaca suatu surat Al-Qur’an, namun demikian malaikat mulai melaknatnya sampai ia selesai membaca. Menurut sebagian ulama, terkadang seseorang membaca Al-Qur’an, tapi tanpa disadaria telah memohaon laknat untuk dirinya terus menerus.

Amir bin Watsilah r.a. berkata kepada umar r.a telah mengangkat Nafi’ bin Abdul Harits r.a. menjadi walikota Makkah Mukharromah. Pada suatu ketika, Umar r.a. bertanya kepadanya, “Siapakah yang dijadikan pengurus kawasan hutan?” Ia menjawab,”Ibnu Abza r.a. “Tanya Umar r.a., “Siapakah Ibnu Abza itu?” Jawabnya, “Ia adalah seorang hamba sahaya.” Umar r.a.,bertanya, “Mengapa engkau mengangkat seorang hamba sahaya sebagai pengurus?” Jawabnya, “Ia adalah hamba sahaya yang senang membaca Al-Qur’an.” Mendengar hal itu, Umar r.a. langsung berkata, “Rasulullah S.A.W. bersabda,’Melalui Al-Qur’an , Allah menghinakan banyak orang dan menaikkan derajat banyak orang.’”

Hadits ke-8

Yang artinya : Dari Abdurrahman r.a., dari Nabi s.a.w., “Tiga hal yang akan berada di bawah ‘Arsy Ilahi pada hari kiamat: (1) Al-Qur’an yang akan membela hamba Allah. Ia memiliki zhahir dan batin, (2) Amanah, (3) Silaturrahmi yang akan berseru, “Ingat, siapa yang menghubungkan aku, A;;ah swt akan menghubunginya. Dan siapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskannya.” (Dari Syarhus Sunah).

FAEDAH:

Maksud ‘Tiga hal yang akan berada di bawah ‘Arsy adalah kesempurnaan kedekatan kepada Allah, yaitu sangat dekat dengan ‘Arsy Allah swt.. Maksud ‘membela hamba Allah’ adalah orang yang memuliakan Al-Qur’an, memuliakan hak-haknya, mengamalkan isinya. Al-Qur’an pasti akan membelanya di hadapan Allah swt. Dan akan mensyafaatinya serta menaikan derajatnya. Mulla Ali Qari rah.a. meriwayatkan dari Tirmidzi bahwa Al-Qur’an akan memohon kepada Allah swt. Agar memberikan pakaian kepada orang yang menunaikan hak-hak Al –Qur’an , maka Allah memberinya mahkota kemuliaan. Kemudian Al-Qur’an meminta tambahan lagi, lalu Allah mengaruniakan kepadanya seluruh pakaian kemuliaan. Al-Qur’an pun berkata, “Ya Allah, ridhailah ia, “maka Allah swt, pun menyatakan keridhaan-Nya kepadanya.

Jika kita memperoleh ridha dari orang yang kita cintai di dunia ini, rasanya tidak ada kenikmatan yang lebih besar dari pada itu. Demikian juga di akhirat, kenikmatan manakah yang dapat mengalahkan ridha Allah swt., Kekasih kita? Dan mereka yang tidak memenuhi hak-hak Al-qur’an, Al-Qur’an akan menuntutnya, “`apakah engkau sudah menghormatiku? Apakah engkau sudah memenuhi hak-hakku?” Tertulis dalam Syarah Ihya bahwa hak Al-Qur’an adalah di khatamkan 2 kali dalam setahun. Maka mereka yang melalaikan Al-Qur’an hendaknya memikirkan masalah ini, yakni bagaimanakah kita menjawab tuntutan yang sekeras ini? Padahal maut itu pasti datang, dan tidak ada tempat untuk lari darinya. Adapun maksud ‘ia memiliki zhahir dan batin’, zhahir maksudnya adalah membaca Al-Qur’an yang dapat dipahami oleh semua orang. Dan batin maksudnya adalah makna Al-Qur’an yang tidak dapat dipahami tentang isi Al-Qur’an, maka ia telah melakukan kesalahan walaupun pendapatnya itu benar.” Sebagian ulama berkata bahwa maksud ‘zhahir Al-Qur’an ‘ adalah lafazh-lafazh Al-Qur’an yang dapat dibaca oleh semua orang. Sedangkan batin Al-Qur’an adalah makna atau tujuan Al-Qur’an yang dapat dipahami menurut keahlian masing-masing.

Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Jika kita ingin memperoleh ilmu, pikirkanlah dan renungkanlah makna-makna Al-Qur’an, karena di dalamnya terkandung ilmu orang-orang terdahulu dan sekarang. Namun untuk memahaminya, kita mesti menunaikan syarat dan adap-adapnya terlebih dahulu.” Jangan seperti pada zaman kita sekarang ini. Hanya bermodalkan pengetahuan tentang beberapa lafazh bahasa arab, bahkan sekedar melihat terjemahan Al-qur’an, seseorang berani berpendapat mengenai Al-Qur’an. Alim ulam berkata, “Dalam menafsirkan Al-Qur’an diperlukan keahlian dalam 15 bidang ilmu.” Saya(pengarang buku) akan meringkas ke 15 ilmu tersebut semata-mata agra di ketahui bahwa tidak mudah setiap orang dapat memahami makna batin Al-Qur’an ini.

  1. Ilmu Lughat (filologi)

Yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata Al-Qur’an. Mujahid rah.a berkata, “Barangsiap beriman kepada Allah dan hari akhirat, ia tidak layak berkomentar tentang ayat-ayat Al-Qur’an tanpa mengetahui ilmu Lughat. Sedikit pengetahuan tentang ilmu lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika hanya mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Dapat terjadi, yang dimaksud kata tersebut adalah arti yang berbeda.

  1. Ilmu Nahwu (tata bahasa).

Sangat penting mengetahui ilmu nahwu, karena sedikit saja i’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti kata tersebut. Sedangkan pengetahuan tentang ilmu i’rab hanya didapat dalam ilmu nahwu.

  1. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata).

Mengetahui ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Fariz berkata, “Jika seseorang tidak mendapatkan ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak sekali.” Dalam Ujubatut-Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat ( Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 71) Karea ketidaktahuannya dalam ilmu sharaf, ia telah mengartikan ayat tersebut seperti ini: “Pada hari ketika manusia di panggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ’imam’ (pemimpin) adalah bentuk mufrad (tunggal), sebagai jama’ dari kata ‘umm’ (ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin ia akan mengartikan ‘imam’ sebagai ibu-ibu.

  1. Ilmu Isytiqaq (akar kata).

Mengetahui Ilmu Isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu tersebut dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.

  1. Ilmu Ma’ani (susunan).

Ilmu ini sangat penting di ketahui. Dengannya, susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.

  1. Ilmu Bayaan

Yakni ilmu yang mempelajari makna kata zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.

  1. Ilmu Badi’

Yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga disebut sebagai cabang ilmu balaghah, yang sangat penting dimilki oleh ahli tafsir. Al-qur’an adalah mukjizat yang agung. Dengan ilmu-ilmu diatas, jemukjizatan Al-Qur’an dapat diketahui.

  1. Ilmu Qira’at.

Ilmu ini sangat penting di pelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.

  1. Ilmu Aqa’id

Ilmu ini sangat penting di pelajari, ini mempelajari dasar-dasar keimanan. Kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin di peruntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti dalam surat Al-Fath ayat 10.

  1. Ilmu Ushul Fiqih.

Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting. Dengan ilmu ini dapat di ambil dalil serta penggalian hukum suatu ayat.

  1. Ilmu Asbabun-Nuzul

Ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an. Dengan mengetahui sebab-sebabnya, kadangkala maksud suatu ayat bergantung pada pengetahuan tantang asbabun-nuzulnya.

  1. Ilmu Nasikh Mansukh.

Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum yang sudah dihapus dan hukum yang masih tetap berlaku.

  1. Ilmu Fiqih.

Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hukum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.

  1. Ilmu Hadits.

Ilmu untuk mengetahui hadits-hadits yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.

  1. Ilmu Wahbi.

Ilmu khusus yang diberikan oleh Allahswt., kepada hamba-Nya yang istimewa. Sebagaimana sabda Nabi saw.,yang artinya :”Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui.”

2 thoughts on “40 HADITS MENGENAI KEUTAMA’AN AL-QUR’AN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s